Kamis, 30 Mei 2013

Jadi Editor? Gampang-Gampang Susah


                Yang namanya penulis, pasti erat hubungannya dengan editor. Entah editor kelas profesional (baca: yang dapat bayaran setiap kali mengedit) atau editor abal-abal (baca: cuma dapat ucapan terima kasih doank). Nah, kali ini saya lagi mood untuk membuat catatan tentang pengalaman sebagai editor. Weittss.... gini-gini karir editor saya cukup panjang lho, meski cuma sebagai editor cabutan nan abal-abal.

                Saat sedang jadi editor, ada rule-rule yg selalu saya patuhi. Karena kalau seenaknya, yg ada penulis jadi jengkel dan akhirnya saya ga dipercaya lagi. Ya walaupun saya juga ga rugi-rugi amat sih kalau penulisnya kabur. Secara saya cuma dapet ucapan terima kasih.

                So, apa aja sih rule-rule yg selalu berusaha saya patuhi? Pertama, siapapun penulisnya, bagaimanapun hasil tulisannya, saat pertama kali dia memberikan naskahnya ke saya, maka saya TIDAK AKAN PERNAH MENCELANYA. Kenapa? Gini, sebagian besar orang itu menulis hanya untuk iseng. Sekedar ikut-ikutan karena kebetulan temen-temennya yg lain juga pada lagi gandrung menulis. Jadi meski tulisannya menurut saya sebenarnya ancur banget, saya tidak akan menghina. Toh, besar kemungkinan setelah eforia menulisnya habis, dia juga tidak akan melanjutkan karir menulisnya. Nah, jadi untuk apa saya mencelanya. Yang ada saya cuma akan melukai hatinya padahal dia juga tidak akan menjadi seorang penulis.

                Tapi kadang kala di antara orang-orang itu akan ada satu dua yg ternyata memang serius pengen jadi penulis. Hasil karya orang-orang yg seperti inilah yg akan saya edit dengan lebih serius karena mereka memang membutuhkan suatu editan.  Sebelum mengedit, satu hal yg selalu saya tanamkan dalam diri saya yaitu sang Penulis adalah bintangnya, she/he is the star. Bukan saya. Saya cuma editor. Dan sebagai editor saya ga boleh ‘keminter’. Peduli amat saya sebenarnya juga seorang penulis dan kebetulan naskah yg mau saya edit adalah hasil karya seseorang yg belum pernah menghasilkan buku apapun. Dari kaca mata normal, mestinya saya bisa dibilang lebih berpengalaman daripada si penulis baru itu. Tapi apakah itu berarti saya boleh takabur dan sok tau? Itu haram hukumnya. Ingat, she/he is the star. Not me. Dengan begitu saya akan selalu menghargai hasil tulisan seseorang. Jangan pernah mengedit dengan niat untuk mencari cacat. Itu namanya editor yg jahat. Tulisan sebagus apapun pasti akan ada cacatnya bila memang dicari-cari.

                Bila suatu tulisan memang bagus, saya akan bilang bagus. Untuk selanjutnya saya tinggal memberitahu bagian mana saja yg menurut saya harus diperbaiki plus editan tanda baca dan hal-hal kecil lainnya. Memang paling enak mengedit tulisan yg secara keseluruhan sudah bagus. Saya dapet bacaan gratis, ngeditnya pun gampang.

Tapi gimana kalau tulisan itu sebenarnya sama sekali tidak menarik? Gimana harus ngomong ke si penulis yg sudah menunggu komentar kita dengan harap-harap cemas?  Aduh, ini yg harus ekstra hati-hati. Yg jelas saya akan mengawali komentar saya dengan pujian. Kalau tidak ada yg bisa dipuji dari tulisan itu gimana? Oh ayolah, selalu ada sisi positif dari segal hal. Gali lebih dalam lagi hingga kau menemukannya. Misalnya tulisan itu sudah gaya bahasanya berantakan, pilihan katanya alay, ide ceritanya.... errrr entahlah sebenarnya dia itu nulis tentang apa. Tapi paling enggak kita bisa mengatakan “wah kok kamu bisa sih kepikiran cerita ttg monster yg suka makan ubi?”. Pasti si penulis alay itu akan dengan berbunga-bunga menceritakan asal muasal ide ceritanya yg menurut dia super brilian. Please deh, monster kok makan ubi. But, tutuplah mulutmu dan dengarkan saja ceritanya. Setelah dia selesai cerita, baru kita mulai komentar lagi “Kenapa harus makan ubi? Kayanya kalau dia makan buah ajaib lebih lucu. Apalagi kamu bisa karang sendiri bentuk buahnya. Asyik kan”. Begitu dia setuju, lanjut lagi. “Oh, kalau ditambah tokoh manusia, mungkin oke juga. Jadi si monster ternyata berteman dengan manusia. Atau mungkin ditambah dengan sedikit misteri gimana?”. Eh ternyata dia setuju. Lanjuuuttt..... “Ehm, kalau dilihat-lihat, monster sama manusia agak kurang pas ya”. Dan bila kita beruntung, akhirnya si monster pemakan ubi itu akan hilang selamanya. Tapi kalau ternyata si penulis adalah tipikal yg keras kepala dan mati-matian mempertahankan si monster ubinya, ya sudahlah terima saja. Ada beberapa tulisan yg memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Lambat laun dia juga akan paham kalau bakat menulis sama sekali tidak mengalir dalam dirinya.

Yaaawww...... Jadi editor itu memang tidak gampang. Kalau disuruh milih antara jadi editor atau penulis, ehmmm..... untuk saat ini sih saya lebih memilih jadi penulis karena saya sudah tidak punya waktu lagi untuk mengedit naskah lain. Bagaimanapun, be a star memang lebih menyenangkan. Tapi tidak ada salahnya sesekali membantu orang lain agar bisa menjadi a star juga. Walau nama kita mungkin tidak dikenal, tapi saat dia terkenal kita tahu bahwa kita ikut andil di dalamnya. Dan itu sangatlah menyenangkan ;)